Semarang – Sebanyak 157 peserta dari 21 organisasi kemasyarakatan (ormas) tingkat provinsi maupun kabupaten/kota se-Provinsi Jawa Tengah menghadiri deklarasi damai bersama Kepolisian Daerah Jawa Tengah pada Jumat, 27 Februari 2026. Kegiatan tersebut menjadi langkah konkret memperkuat sinergi antara aparat keamanan dan elemen masyarakat dalam menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), khususnya selama bulan suci Ramadhan.
Pelaksana Tugas Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Jawa Tengah, Pradhana Agung Nugraha, menegaskan bahwa sinergi kelembagaan ormas memiliki peran strategis dalam menciptakan harkamtibmas yang berkelanjutan. Menurutnya, ormas bukan hanya wadah aspirasi, melainkan juga pilar penting dalam membangun ketahanan sosial di tengah masyarakat yang majemuk.
“Sinergi dan komunikasi yang baik antarormas serta dengan pemerintah menjadi fondasi penting dalam mencegah potensi konflik sosial. Ramadhan harus dimaknai sebagai momentum mempererat persaudaraan dan memperkuat solidaritas,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Humas Polda Jawa Tengah, Artanto, menyampaikan apresiasi atas komitmen para pimpinan ormas yang hadir. Ia menyebut deklarasi damai ini sebagai wujud kedewasaan dan tanggung jawab sosial para tokoh ormas dalam menjaga stabilitas wilayah.
“Momentum Ramadhan harus menjadi ruang untuk memperkuat persaudaraan, bukan sebaliknya. Dengan komunikasi yang baik dan sinergi yang terjaga, kami optimistis situasi kamtibmas di Jawa Tengah akan tetap aman, tertib, dan kondusif,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Pembinaan Masyarakat (Dirbinmas) Polda Jawa Tengah, Siti Rondhijah, menegaskan bahwa peran Polri sebagai pelindung, pengayom, dan penegak hukum tidak dapat berjalan optimal tanpa dukungan serta keterlibatan aktif tokoh masyarakat, khususnya pimpinan ormas.
“Ormas memiliki posisi strategis sebagai mitra pemerintah dan aparat keamanan. Kolaborasi inilah yang menjadi kunci dalam menjaga situasi tetap aman, damai, dan kondusif,” tegasnya.
Sebagai bagian dari pembinaan, para peserta menerima paparan dari sejumlah narasumber lintas fungsi yang memberikan pemahaman mengenai strategi pemeliharaan kamtibmas, deteksi dini potensi gangguan keamanan, serta pentingnya pendekatan persuasif di tengah masyarakat.
Dirbinmas juga mengajak seluruh ormas untuk menjadi teladan di lingkungan masing-masing. Ia menekankan pentingnya menjaga harmoni, mencegah kesalahpahaman maupun gesekan antar kelompok, serta membangun komunikasi yang menyejukkan. Selain itu, ormas didorong untuk mengedukasi anggotanya agar tidak terlibat dalam aktivitas yang berpotensi mengganggu ketertiban umum.
Beberapa potensi gangguan yang menjadi perhatian menjelang dan selama Ramadhan antara lain peredaran minuman keras ilegal, pembuatan dan penyalaan petasan, aksi perang sarung, hingga balap liar yang kerap meningkat menjelang waktu sahur. Dengan peran aktif ormas dalam memberikan edukasi dan pengawasan internal, diharapkan berbagai potensi gangguan tersebut dapat diminimalisir.
Para pimpinan ormas juga diimbau untuk selalu berkoordinasi dengan pihak kepolisian apabila menyelenggarakan kegiatan yang melibatkan massa dalam jumlah besar. Langkah ini dinilai penting sebagai bentuk antisipasi guna mencegah hal-hal yang tidak diinginkan serta memastikan kegiatan berjalan tertib dan aman.
Sebagai simbol komitmen bersama, seluruh peserta mengikuti pembacaan deklarasi damai yang dipimpin langsung oleh Dirbinmas, kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan naskah deklarasi oleh perwakilan ormas yang hadir.
Deklarasi ini diharapkan tidak berhenti pada tataran seremoni, melainkan menjadi komitmen nyata yang diwujudkan dalam tindakan konkret di lapangan. Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah, kepolisian, dan ormas, stabilitas kamtibmas di Jawa Tengah selama Ramadhan diyakini dapat terjaga dengan baik, demi terciptanya suasana ibadah yang aman, nyaman, dan penuh kedamaian bagi seluruh masyarakat.( red )












