SEKOLAH ATAU TEMBOK BISU? SAAT NIAT BELAJAR DIBALAS DENGAN DIAM

  • Bagikan

Banyuwangu Di tengah gencarnya slogan “pendidikan untuk semua”, realitas justru memperlihatkan wajah lain yang jauh dari nilai kemanusiaan. Seorang siswa yang masih ingin belajar, masih ingin memperbaiki diri, justru dihadapkan pada sikap dingin dan membisu dari institusi yang seharusnya menjadi tempatnya bertumbuh.

Ibrahim, siswa kelas 11 TKJ 1 di SMKS PGRI -1 GIRI Banyuwangi, bukanlah anak yang menyerah pada keadaan. Ia masih ingin sekolah. Ia masih punya harapan. Namun sayangnya, harapan itu seperti dipantulkan ke dinding kosong—tanpa jawaban, tanpa kepastian.

Yang lebih memprihatinkan, keluarga tidak datang dengan sikap membela diri. Mereka datang dengan kerendahan hati. Wahyu Wijaya, paman Ibrahim sekaligus Direktur Utama Media Matadunia.co.id, secara langsung menemui pihak sekolah. Dalam pertemuan tersebut, keluarga telah menyampaikan permohonan maaf atas kesalahan yang dilakukan Ibrahim, sekaligus memohon agar pihak sekolah memberikan kebijakan dan kesempatan agar ia tetap bisa melanjutkan pendidikan di sekolah tersebut.

BACA JUGA :  Kapolresta Banyuwangi Perkuat Sinergitas TNI-POLRI, Silaturahmi ke Kodim 0825/Banyuwangi

Tidak ada pembelaan.

Tidak ada penyangkalan.

Yang ada hanyalah permohonan maaf dan harapan akan kesempatan kedua.

Pihak sekolah melalui bidang kesiswaan yang diwakili oleh Bu Selvi, serta salah satu tenaga pengajar Bu Evi, sempat memberikan secercah harapan: bahwa permohonan tersebut akan disampaikan kepada kepala sekolah dan pihak keluarga diminta menunggu kabar lanjutan.

Namun kenyataannya?

Hening.

Sunyi.

Tanpa tanggapan hingga 21 Mei 2026.

Pertanyaannya kini semakin tajam:

Jika keluarga sudah meminta maaf, jika siswa masih ingin belajar, lalu alasan apa yang tersisa untuk tetap menutup pintu?

Apakah kebijakan di sekolah sudah tidak lagi memberi ruang bagi nilai kemanusiaan dan pembinaan?

Jika setiap kesalahan dibalas dengan penolakan tanpa ruang perbaikan, maka sekolah bukan lagi tempat mendidik—melainkan tempat menghukum tanpa proses.

BACA JUGA :  Jum'at Berkah, Polsek Taman Berbagi Makanan di Jalan Raya Wonocolo Sidoarjo

Sikap diam bukan netral.

Sikap diam adalah bentuk pembiaran.

Dan dalam konteks ini, diam adalah penolakan yang disampaikan tanpa keberanian untuk berkata jujur.

Ini bukan hanya tentang Ibrahim. Ini tentang wajah pendidikan kita hari ini.

Ketika permintaan maaf tidak lagi berarti, ketika niat untuk berubah tidak lagi dihargai, maka yang sedang runtuh bukan hanya masa depan seorang siswa—tetapi juga nilai dasar pendidikan itu sendiri.

Kini publik menunggu keberanian SMKS PGRI -1 GIRI Banyuwangi

tetap bersembunyi di balik diam, atau menjawab dengan kebijakan dan tanggung jawab.

Karena jika pintu sekolah tetap ditutup, maka satu pertanyaan akan terus menggema:

siapa yang sebenarnya gagal—murid yang ingin berubah, atau sekolah yang menolak memberi kesempatan?

 

redaksi/team

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *