BLITAR | Polemik di Desa Gadungan, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, kian memanas. Gaya komunikasi Kepala Desa Gadungan, Dhydiet Setya Budhy, S.Pd., yang akrab disapa Pak Dedy, kini menjadi sorotan tajam masyarakat.Blitar (25/04/26)
Dalam percakapan melalui telepon dengan tim media, nada bicara Pak Dedy dinilai sangat arogan dan menantang. Alih-alih memberikan penjelasan yang memuaskan, ia justru dengan enteng menyuruh pihak yang mempertanyakan untuk langsung melaporkan dirinya ke instansi berwenang atau Aparat Penegak Hukum (APH).
Dalam pembelaannya, Pak Dedy mengaku bahwa selama memimpin Desa Gadungan, dirinya merasa tidak pernah melakukan kesalahan sedikitpun. Pernyataan ini justru dinilai warga sebagai upaya untuk menutupi berbagai kejanggalan yang terjadi selama masa jabatannya.
“Beliau bilang tidak ada kesalahan, padahal banyak hal yang tidak jelas. Sikapnya malah menantang suruh lapor saja, seolah takut apa,” ujar salah satu pihak yang pernah berkomunikasi dengannya.
Meskipun mendapat perlawanan dan jawaban yang berbelit, tim yang mengusut kasus ini menegaskan tidak akan mundur. Mereka akan terus mendesak hingga ada kejelasan mutlak mengenai pengelolaan anggaran desa, termasuk dana BUMDes senilai Rp 275 juta yang sebelumnya menjadi pertanyaan besar.
Proyek Pemerintah tapi Warga Tetap Dipungut Biaya
Keprihatinan warga semakin bertambah dengan fakta di lapangan. Menurut pengakuan narasumber, banyak proyek pembangunan seperti rabat jalan atau kegiatan lain yang jelas-jelas sudah dianggarkan oleh pemerintah, namun dalam pelaksanaannya masyarakat justru masih dimintai sumbangan atau uang paksa.
“Sudah ada anggaran dari pemerintah, tapi warga masih disuruh keluar uang lagi untuk biaya bahan atau upah. Ini yang tidak masuk akal dan harus dipertanggungjawabkan,” tegas warga.
Warga berharap, sikap arogan dan ketidakjelasan ini segera disikapi oleh pihak berwenang agar pengelolaan keuangan desa bisa transparan dan dirasakan manfaatnya langsung oleh masyarakat, bukan sebaliknya memberatkan.(Tim Red)











