Semarang — Di tengah arus deras perkembangan teknologi dan transformasi kebijakan pendidikan, peran guru sebagai agen perubahan tak tergantikan. Guru bukan hanya penyampai materi, tetapi juga pembentuk karakter dan penentu arah masa depan generasi. Menyadari pentingnya peran strategis tersebut, seluruh guru dan tenaga kependidikan SMP Negeri 44 Semarang melaksanakan kegiatan In House Training (IHT) yang mengusung tema “Pendidikan Karakter Berbasis Deep Learning: Strategi Meningkatkan Kompetensi dan Karakter Siswa.”
Kegiatan IHT berlangsung selama dua hari, Rabu-Kamis (16–17 Juli 2025), mulai pukul 12.30 hingga 16.00 WIB. IHT menjadi wadah pembekalan penting bagi para pendidik agar semakin siap menyambut tahun ajaran baru dengan semangat pembelajaran yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara karakter.
Pada hari pertama, IHT menghadirkan narasumber utama Dr. Putri Marlenny P., M.Psi., Psikolog, selaku Koordinator Rumah Duta Revolusi Mental (RDRM) Kota Semarang. Ia membawakan materi pengantar tentang pentingnya pendidikan inklusi dan sekolah yang ramah anak—sebuah pendekatan yang sangat relevan di era modern yang menuntut keberpihakan pada semua peserta didik tanpa diskriminasi.
Sesi berikutnya dilanjutkan oleh Bapak Masrikan, S.Pd., M.Si., yang menyampaikan strategi pembelajaran deep learning atau pendekatan pembelajaran mendalam. Materi ini menekankan pentingnya pembelajaran yang tidak hanya menargetkan hafalan, tetapi mendorong siswa berpikir kritis, kolaboratif, dan reflektif. Kombinasi dua materi ini menjadi bekal strategis bagi guru untuk melaksanakan pendidikan yang relevan, menyenangkan, dan bermakna.

Yang menarik, kegiatan IHT ini tidak hanya diikuti oleh guru internal SMP Negeri 44 Semarang, tetapi juga mengundang guru dari sekolah-sekolah sekitar. Hal ini menunjukkan komitmen sekolah dalam membangun ekosistem pendidikan yang kolaboratif, terbuka, dan terus berkembang bersama.
Kepala SMP Negeri 44 Semarang, Y. Hesty Padmaratnawati, S.Pd., menegaskan pentingnya semangat belajar sepanjang hayat bagi para guru. “Guru pembelajar tidak pernah lelah untuk terus belajar. Mari kita upgrade diri dan menjadi teladan terbaik bagi siswa-siswi kita,” ujarnya.
IHT bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan ruang strategis untuk menyelaraskan arah pendidikan dengan tuntutan zaman. Dengan pembekalan seperti ini, para guru diharapkan semakin siap menghadirkan kelas-kelas yang lebih inklusif, transformatif, dan berkarakter. Karena sejatinya, pendidikan yang hebat lahir dari guru yang terus belajar.
( redaksi/tiur tim media smpn 44 semarang )











