Menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Bantarbolang Dipersoalkan Wali Murid, Alokasi Anggaran Dipertanyakan

  • Bagikan

Pemalang, Jateng Matadunia.co.id Kamis, 12 Maret 2026 – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Bantarbolang menjadi sorotan sejumlah wali murid setelah menu yang diterima siswa dinilai masih sederhana. Kondisi ini memunculkan pertanyaan dari orang tua terkait besaran anggaran yang dialokasikan untuk setiap anak dalam program tersebut.

Salah satu wali murid, Rizki, mengatakan beberapa orang tua mulai memperhatikan menu yang diberikan kepada anak-anak terlihat kurang bervariasi.

“Awalnya saya menyampaikan keberatan secara pribadi, bahkan sempat meminta agar porsi anak saya diberikan kepada siswa lain. Namun belakangan beberapa ibu juga mulai menyampaikan hal yang sama karena menu yang diterima anak-anak terlihat masih sangat sederhana,” ujarnya.

Menurutnya, para orang tua tetap menghargai upaya pemerintah dalam menyediakan program pemenuhan gizi bagi siswa. Namun mereka berharap ada penjelasan yang lebih transparan mengenai alokasi anggaran dalam program tersebut.

“Kami tentu mendukung program ini. Hanya saja sebagai orang tua kami berharap ada penjelasan yang lebih terbuka mengenai anggaran per anak dan bagaimana pembagiannya,” katanya.

Rizki mencontohkan, dalam beberapa hari terakhir anak-anak menerima menu seperti singkong rebus dengan taburan keju, tela ungu dengan tambahan keju, serta kacang kulit rebus.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dapur Bantarbolang, Rifki, saat dikonfirmasi Kamis (12/3/2026), menjelaskan bahwa alokasi anggaran MBG berbeda sesuai jenjang pendidikan.

BACA JUGA :  HUT ke-2 CMI, Wujud Syukur dan Kepedulian Berbagi Bersama Anak Yatim Piatu

Ia menyebutkan, paket untuk anak TK hingga SD kelas 1–3 dialokasikan sebesar Rp8.000 per anak, SD kelas 4–6 sebesar Rp10.000 per anak, dan SMP hingga SMK sebesar Rp15.000 per anak.

Namun menurut Rifki, angka tersebut masih merupakan anggaran kotor karena harus dipotong untuk biaya operasional dapur.

“Dana itu masih kotor. Dari situ dipotong Rp3.000 untuk operasional dapur seperti listrik, gas, air dan kebutuhan lainnya. Selain itu ada Rp2.000 untuk sewa tanah dapur,” jelasnya.

Dengan perhitungan tersebut, dana yang benar-benar digunakan untuk penyediaan makanan pada paket kecil disebut berkisar sekitar Rp5.000 per siswa.

Sementara itu, Asisten Lapangan dapur MBG, Rivo, menyampaikan bahwa dalam praktik pengolahan menu di dapur tersebut pembagian anggaran cenderung dilakukan secara merata.

“Kurang lebih di dapur ini dipukul rata sekitar Rp10.000 per anak. Tidak terlalu dibedakan, paling hanya pada beberapa menu seperti telur. Paket kecil menggunakan telur puyuh, sedangkan paket besar menggunakan telur ayam,” ujarnya.

Terkait variasi menu, pihak dapur menyebut makanan yang disajikan telah disusun sesuai arahan program dengan memperhatikan unsur karbohidrat, protein hewani, serta protein nabati.

Menanggapi keluhan mengenai menu singkong atau ketela rambat, pihak dapur menjelaskan bahan tersebut tetap termasuk dalam kategori sumber karbohidrat. Selain itu, pemilihan menu juga mempertimbangkan daya tahan makanan karena pembagian dilakukan pada bulan Ramadan.

“Misalnya makanan seperti bongko atau lemper, kalau dibagikan siang sampai sore dikhawatirkan menjadi berair atau cepat basi. Jadi dipilih menu yang lebih tahan,” jelas pihak dapur.

BACA JUGA :  AJS Komitmen Mengawal Perubahan Pulau Madura dari KIHT Menjadi KEK

Dalam hal pengemasan, pihak dapur juga menyebut terdapat ketentuan yang harus dipatuhi. Salah satunya tidak diperbolehkannya penggunaan plastik tipis seperti kantong plastik yang biasa digunakan untuk membungkus es.

Karena itu, makanan terkadang dikemas menggunakan wadah sekali pakai seperti kotak mika, kotak makan sekali pakai, plastik klip, maupun styrofoam.

Sementara itu, pihak dapur juga menunjukkan sebagian dokumen petunjuk pelaksanaan (juknis) SPPG kepada wartawan sebagai acuan pelaksanaan program. Dalam cuplikan dokumen tersebut disebutkan bahwa belanja bahan baku untuk anak balita, PAUD, TK hingga SD kelas 1–3 menggunakan acuan dasar Rp8.000 per orang, sedangkan untuk SD kelas 4–6 hingga jenjang SMP dan SMA/SMK menggunakan acuan dasar Rp10.000 per orang.

Dokumen yang ditunjukkan kepada media tersebut juga mencantumkan adanya komponen biaya operasional sebesar Rp3.000 per orang yang digunakan untuk kebutuhan dapur, seperti listrik, internet atau telepon, gas, dan air.

(Lampiran: Cuplikan screenshot bagian juknis SPPG yang diberikan kepada media oleh Kepala SPPG.)

Para wali murid berharap program MBG dapat terus dievaluasi agar kualitas dan variasi menu yang diberikan kepada anak-anak semakin baik sehingga tujuan program untuk meningkatkan pemenuhan gizi dapat dirasakan secara optimal.

(Red/Team)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *