SMP N 44 Semarang Guncang Studio RRI: Panggung Literasi Jawa yang Menegaskan Krisis dan Kebangkitan Budaya

  • Bagikan

Semarang, 3 Desember 2025 — Di tengah derasnya arus digital dan semakin pudarnya penggunaan bahasa daerah dalam percakapan sehari-hari, SMP Negeri 44 Semarang justru tampil berani. Studio Omah Gurit RRI Pro 4 Semarang malam itu menjadi saksi bagaimana sebuah sekolah negeri memilih jalan kebudayaan, bukan sekadar formalitas kurikulum. Mereka datang bukan untuk sekadar tampil, tetapi untuk memberikan pesan tegas: bahasa Jawa masih hidup, dan sekolah harus menjadi benteng yang menjaganya.

Kepala Sekolah, Y. Hesty Padmaratnawati, M.Pd, hadir bukan sebagai seremonial, melainkan sebagai simbol keberpihakan. Dalam banyak kasus, sekolah hanya menjadikan bahasa Jawa sebagai jam pelajaran yang harus dilewati. Namun, kehadiran beliau di ruang siaran RRI memperlihatkan standar baru: guru dan pemimpin pendidikan harus turun langsung, menunjukkan bahwa pelestarian budaya tak cukup hanya lewat teori.

“Ketika guru bergerak, siswa ikut bergerak. Guru harus menjadi teladan, bukan hanya pemberi materi,” tegas Hesty dalam pernyataan yang menjadi napas seluruh acara.

Tangan Dingin Dua Guru: Tiur & Benny, Duet yang Menggerakkan Satu Generasi

Dua sosok guru yang menjadi jantung acara ini, Tiur Wulan Anggraeni, S.Pd, dan Benny Setyo Adi, S.Pd, tidak hanya menunjukkan kompetensinya sebagai pengajar bahasa Jawa. Mereka tampil sebagai seniman, penulis, pembawa tradisi, dan penggerak budaya.

BACA JUGA :  RKBK dan Kalapas Banyuwangi Kompak 3KO: Komunikasi, Koordinasi, dan Kolaborasi

Bu Tiur, yang dikenal sebagai motor penggerak literasi di sekolah, kembali membuktikan kecermatannya dengan mengarahkan keseluruhan alur siaran. Sementara itu, kehadiran Pak Benny sebagai guru baru menjadi kejutan tersendiri. Penampilan macapat yang ia bawakan menunjukkan penguasaan tradisi, sementara kemampuannya menulis naskah sandiwara radio memperlihatkan kualitas literasi modern yang jarang dimiliki guru muda.

Keduanya berpadu menghadirkan Sandiwara Radio berjudul “Kaca Setan”, sebuah naskah yang mengangkat topik tajam: kecanduan gadget di kalangan remaja. Tajam karena isu ini jarang disentuh dengan pendekatan sastra Jawa; kritis karena mengangkat masalah sosial dengan metode seni tradisi.

Sandiwara ini tidak sekadar hiburan. Ia menyodorkan refleksi: bagaimana generasi muda bisa kehilangan identitas budaya justru karena perangkat yang selalu mereka genggam.

Siswa-Siswa Berbakat, Bukti Bahwa Tradisi Tak Pernah Mati

Penampilan para siswa seperti Aqeela, pembaca fabel Imagine, menunjukkan bahwa literasi tidak hanya bertumpu pada guru. Sementara itu, dua jawara Ndhagel Ijen: Mahardika Hilmy dan Alfira Rizky, menegaskan satu hal penting: tradisi jenaka Jawa masih bisa hidup dan relevan di generasi yang tumbuh bersama TikTok.

Kehadiran mereka bukan dekorasi acara. Mereka adalah bukti bahwa ketika guru mau turun panggung, siswa akan berani mengikuti.

RRI Pro 4 Malam Itu: Ruang yang Menghidupkan Bahasa Jawa

BACA JUGA :  Rizal Bawazier Usul Bebas Pajak Gaji Hingga Rp25 Juta: Dorong Daya Beli, PPN Bakal Naik!

Siaran berdurasi satu jam, mulai pukul 20.00 hingga 21.00 WIB, berjalan dinamis, tanpa jeda yang mengendurkan ketertarikan pendengar. Macapat, geguritan, dagelan, hingga sandiwara radio ditampilkan sebagai satu rangkaian utuh—sebuah kurikulum kebudayaan mini yang dibawakan secara ringan namun berisi.

Apresiasi tinggi datang dari Pawara Titis Sambodo, S.Pd, yang menyaksikan langsung proses siaran.

“Tim ini tidak hanya cerdas, tetapi juga mampu menghibur. Ini siaran yang benar-benar bermakna—jarang ada sekolah yang bisa tampil sedewasa ini,” ujarnya.

Pujian itu tidak berlebihan. Di tengah banyak sekolah yang lebih bangga pada capaian akademik digital, SMPN 44 Semarang memilih jalan yang tak populer, tetapi jauh lebih bermartabat: melestarikan bahasa ibu.

Di Balik Siaran, Ada Pesan Penting:

Budaya Tidak Akan Hidup Jika Hanya Dituliskan di Buku Pelajaran Siaran ini menegaskan satu hal: pelestarian budaya tidak cukup jika hanya mengandalkan jam pelajaran. Ia harus ditampilkan, didengar, dirayakan, dan digerakkan oleh para guru yang tak hanya membaca teks, tetapi menghidupkannya.

SMPN 44 Semarang malam itu tidak hanya tampil.

Mereka mengguncang, menyentuh, dan mengingatkan:

Bahasa Jawa bukan warisan yang menunggu mati, tetapi kekuatan yang akan tetap hidup jika sekolah memilih untuk tidak diam.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *