Lapas Banyuwangi Panen 2,4 Ton Padi Siliwangi, Perkuat Ketahanan Pangan Nasional

  • Bagikan

Banyuwangi Matadunia.co.id Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banyuwangi kembali membuktikan komitmennya dalam mendukung program ketahanan pangan nasional melalui panen raya padi varietas Siliwangi di lahan Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) Paswangi, Selasa (28/7/2026).

Panen raya yang digelar di atas lahan seluas satu hektare tersebut, melibatkan warga binaan secara langsung sebagai bagian dari program pembinaan kemandirian berbasis pertanian produktif. Kegiatan ini tidak hanya menghasilkan komoditas pangan, tetapi juga menjadi sarana pembekalan keterampilan kerja bagi warga binaan sebagai bekal ketika kembali ke tengah masyarakat.Tokoh & Masyarakat

Dari hasil panen kali ini, Lapas Banyuwangi memproyeksikan produksi mencapai sekitar 2,4 ton gabah, sebuah capaian yang dinilai cukup menggembirakan sekaligus menunjukkan keberhasilan pengelolaan lahan pertanian di kawasan SAE Paswangi.

Kepala Lapas Kelas IIA Banyuwangi, Solichin, A.Md.IP., S.AP., M.H., mengatakan panen raya tersebut merupakan bagian dari implementasi program pembinaan yang mengintegrasikan aspek edukasi, keterampilan, dan produktivitas bagi warga binaan.

“Hari ini kami telah melaksanakan panen raya padi varietas Siliwangi. Alhamdulillah kita bisa memanen dari total lahan yang kita tanam seluas sekitar satu hektare dengan perkiraan hasil mencapai 2,4 ton gabah. Hasil ini merupakan wujud kerja keras seluruh jajaran bersama warga binaan dalam mengelola lahan pertanian secara optimal. Program ketahanan pangan ini akan terus kami kembangkan sebagai bagian dari pembinaan yang memberikan manfaat nyata bagi warga binaan maupun masyarakat,” ujar Solichin.

BACA JUGA :  Bakesbangpol Sumenep Terima Penghargaan IHaI 2025 dari Kemendagri RI di Jakarta Pusat

Ia menegaskan, pembinaan melalui sektor pertanian tidak hanya bertujuan meningkatkan produktivitas lahan, tetapi juga membentuk karakter, kedisiplinan, dan kemandirian warga binaan.

“Kami ingin warga binaan tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga memperoleh ilmu, pengalaman, dan keterampilan yang dapat menjadi bekal untuk membuka peluang usaha maupun bekerja setelah bebas nanti. Dengan demikian, mereka dapat kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang produktif, mandiri, dan bermanfaat,” tegasnya.

Menurut Solichin, pengembangan Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) Paswangi merupakan strategi pembinaan kemandirian yang memberikan kesempatan kepada warga binaan untuk memperoleh pengalaman nyata di bidang pertanian. Melalui kegiatan tersebut, mereka dibekali keterampilan praktis yang diharapkan dapat menjadi modal ekonomi setelah menyelesaikan masa pidana.

BACA JUGA :  Diduga Ada Pembiaran! Dua Warung Kopi di Desa Penataran Disinyalir Jadi Sarang Prostitusi

“Kami berkomitmen menjadikan SAE Paswangi sebagai pusat pembelajaran sekaligus laboratorium pembinaan kemandirian. Ke depan, kami akan terus mengoptimalkan pemanfaatan lahan produktif agar hasil pertanian semakin meningkat dan mampu mendukung program ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan,” kata Solichin.

Program ketahanan pangan yang dijalankan Lapas Banyuwangi juga sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam memperkuat sektor pangan nasional melalui optimalisasi lahan produktif, sekaligus mendorong pemasyarakatan yang lebih humanis, produktif, dan berorientasi pada pemberdayaan.Pemerintah

Keberhasilan panen padi varietas Siliwangi ini menjadi bukti bahwa lembaga pemasyarakatan tidak hanya berfungsi sebagai tempat pembinaan hukum, tetapi juga mampu berkontribusi nyata terhadap pembangunan sektor pertanian dan ketahanan pangan di daerah.

Dengan keberlanjutan program SAE Paswangi, Lapas Banyuwangi berharap mampu meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus mencetak warga binaan yang memiliki kompetensi, etos kerja, dan kemandirian sehingga siap kembali menjadi bagian dari masyarakat secara produktif.

(Red/Team)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *