BANYUWANGI — Dinamika internal partai politik kembali menjadi perhatian. Fenomena mengenai melemahnya ketegasan, loyalitas, serta keberanian dalam menjalankan sikap organisasi dinilai dapat menjadi persoalan serius apabila dibiarkan berkembang di dalam sebuah struktur partai.
Hal tersebut disampaikan Slamet Santoso alias Mbah Geger, penggiat PDI Perjuangan di Banyuwangi, yang hingga saat ini menyatakan tetap teguh memberikan dukungan dan loyalitasnya kepada Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri.
Menurut Mbah Geger, sebuah partai politik tidak hanya membutuhkan struktur organisasi yang lengkap, tetapi juga membutuhkan kader-kader yang memiliki keberanian dalam mengambil sikap, ketegasan dalam menjalankan keputusan organisasi, serta loyalitas terhadap garis perjuangan partai.
“Partai politik itu bukan hanya soal jabatan dan posisi struktural. Di dalamnya harus ada ketegasan, keberanian dan loyalitas. Kalau tiga hal itu mulai hilang, maka yang perlu dipertanyakan adalah bagaimana organisasi tersebut akan menjaga marwah dan arah perjuangannya,” ujar Mbah Geger.
Ia menilai loyalitas terhadap partai semestinya tidak dimaknai sebagai kepatuhan secara membabi buta. Loyalitas, menurutnya, justru harus diwujudkan melalui keberanian menyampaikan pendapat, menjaga kehormatan organisasi, serta konsisten terhadap prinsip dan keputusan yang telah menjadi kesepakatan bersama.
Mbah Geger juga mengingatkan bahwa kader yang berada dalam struktur partai memiliki tanggung jawab moral yang lebih besar. Posisi struktural, kata dia, seharusnya menjadi ruang untuk memperkuat organisasi, bukan justru membuat kader kehilangan keberanian dalam menyikapi persoalan.
“Kalau seorang kader hanya berani ketika berada di luar struktur, tetapi ketika sudah berada di dalam struktur justru diam terhadap persoalan, tentu publik dan kader lainnya bisa mempertanyakan. Struktur itu bukan sekadar jabatan, tetapi amanah,” tegasnya.
Dalam konteks PDI Perjuangan, Mbah Geger menegaskan bahwa sikap politik pribadinya sampai saat ini tetap kepada Megawati Soekarnoputri. Ia menyatakan tidak ingin loyalitasnya terhadap partai berubah hanya karena dinamika politik maupun perbedaan kepentingan yang muncul di tingkat internal.
“Saya tetap kepada Ibu Megawati. Bagi saya, loyalitas itu diuji ketika ada dinamika dan persoalan, bukan ketika semuanya berjalan sesuai dengan keinginan kita. Kalau memang mengaku kader dan penggiat partai, harus berani berdiri dan menyampaikan sikap dengan cara yang bertanggung jawab,” ungkapnya.
Mbah Geger berharap dinamika yang terjadi di tubuh partai politik dapat menjadi bahan evaluasi bersama. Menurutnya, perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar dalam organisasi, tetapi jangan sampai perbedaan tersebut menghilangkan semangat persatuan, keberanian, dan loyalitas terhadap perjuangan partai.
Ia juga mengajak seluruh kader untuk kembali menempatkan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
“Jangan sampai partai kehilangan kader-kader yang berani karena semua memilih diam. Jangan pula loyalitas hanya muncul ketika ada kepentingan. Partai yang kuat adalah partai yang kadernya berani bersikap, berani mengingatkan, dan tetap loyal terhadap perjuangan,” pungkas Mbah Geger.
Pernyataan tersebut, kata Mbah Geger, bukan ditujukan untuk menyerang individu tertentu, melainkan sebagai bentuk kepedulian terhadap kehidupan organisasi dan masa depan partai politik agar tetap memiliki ketegasan, keberanian, serta loyalitas dalam menjalankan roda strukturalnya.
red/team












