BANYUWANGI – MEDIA MATADUNIA.CO.ID
Jauh sebelum Banyuwangi dikenal sebagai sebuah kabupaten, wilayah di ujung timur Pulau Jawa ini memiliki sejarah panjang mengenai kerajaan, kekuasaan, dan pergantian kepemimpinan.
Salah satu periode yang menarik untuk ditelusuri adalah masa pemerintahan Pangeran Adipati Danureja, yang dalam sejumlah sumber sejarah dikenal sebagai Mas Purba.
Berdasarkan penelitian Nurmaria, Rinda Handayani, dan Pitutur Tustho Gumawang yang diterbitkan dalam jurnal ISLAH tahun 2025, Mas Purba merupakan putra Sasranagara. Ia muncul dalam pergolakan perebutan kekuasaan setelah wafatnya Tawang Alun II pada 1691.
Penelitian tersebut menjelaskan bahwa setelah Tawang Alun II wafat, terjadi perselisihan di lingkungan keluarga kerajaan. Sasranagara kemudian mengangkat dirinya sebagai raja, tetapi keputusan tersebut mendapat penolakan dari Macanapura, salah satu putra Tawang Alun II.
Macanapura berhasil merebut takhta. Namun, perebutan kekuasaan belum berakhir. Konflik berikutnya terjadi antara Macanapura dan Mas Purba yang kemudian mendapatkan dukungan dari pihak Bali.
Mas Purba akhirnya berhasil menguasai takhta dan menggunakan gelar Pangeran Adipati Danureja.
PERGANTIAN KEKUASAAN DAN PENGARUH BALI
Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa Blambangan pada masa itu tidak terlepas dari persaingan kekuasaan internal maupun pengaruh kerajaan-kerajaan di sekitarnya.
Letak geografis Blambangan yang berada di ujung timur Pulau Jawa menjadikannya wilayah strategis dalam hubungan politik antara Jawa dan Bali.
Dukungan dari pihak Bali dalam perebutan takhta Mas Purba menjadi salah satu bagian penting yang perlu diperhatikan ketika membaca perjalanan politik Blambangan.
Dalam literatur sejarah, pemerintahan Danureja dikaitkan dengan periode 1697 hingga 1736. Sejumlah sumber juga menyebut adanya hubungan kekuasaan Blambangan dengan kerajaan Bali pada masa tersebut.
DI MANA PUSAT PEMERINTAHAN DANUREJA?
Salah satu informasi yang menarik untuk ditelusuri adalah keberadaan pusat pemerintahan Danureja.
Buku Cariyosipun Tanah Balambangan Jamanipun Wong Agung Wilis, terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1996, menyebut bahwa setelah berhasil menguasai kerajaan, Mas Purba atau Pangeran Danureja menjadikan Lateng sebagai pusat pemerintahannya.
Keterangan ini menjadi penting untuk ditelusuri lebih jauh melalui penelitian lokasi, peninggalan sejarah, serta sumber-sumber lokal.
Apakah kawasan Lateng yang disebut dalam naskah tersebut memiliki keterkaitan dengan lokasi yang dikenal masyarakat Banyuwangi sekarang? Pertanyaan ini memerlukan penelitian geografis dan sejarah lebih lanjut.
AKHIR PEMERINTAHAN DANUREJA
Tahun 1736 menjadi penanda berakhirnya pemerintahan Pangeran Adipati Danureja.
Setelah wafatnya Danureja, kekuasaan kemudian diteruskan oleh putranya, Mas Naweng, yang dikenal sebagai Pangeran Danuningrat atau Pangeran Jingga dalam sejumlah sumber.
Peralihan tersebut membuka babak baru perjalanan politik Kerajaan Blambangan.
Pada masa Danuningrat, hubungan dengan kerajaan Bali, pengelolaan pemerintahan, serta perkembangan ekonomi masyarakat menjadi bagian penting yang akan dikupas dalam edisi berikutnya.
CATATAN SEJARAH YANG TIDAK BOLEH DIABAIKAN
Terdapat perbedaan penyebutan nama dan gelar dalam sejumlah sumber sejarah.
Selain itu, terdapat perbedaan cerita mengenai akhir hayat Danureja. Penelitian akademik tahun 2025 mencatat bahwa sumber kolonial yang dikutip Lekkerkerker menyebut jenazahnya dibakar bersama sembilan istrinya, sementara Babad Tawang Alun menyebut jenazahnya dimakamkan di Tuban.
Perbedaan tersebut belum dapat dipastikan hanya berdasarkan satu sumber. Karena itu, keduanya harus ditempatkan sebagai keterangan dari sumber yang berbeda, bukan fakta yang sudah disepakati.
SEJARAH UNTUK GENERASI BANYUWANGI
Mengapa perjalanan seorang penguasa kerajaan ratusan tahun lalu perlu kembali dibicarakan?
Karena sejarah bukan sekadar mengingat nama raja, gelar bangsawan, atau pergantian kekuasaan.
Di dalam sejarah terdapat pelajaran tentang bagaimana kekuasaan diperoleh, bagaimana pemerintahan dijalankan, bagaimana hubungan dengan kekuatan luar memengaruhi daerah, serta bagaimana masyarakat menghadapi perubahan zaman.
Generasi Banyuwangi perlu mengetahui bahwa daerah yang mereka tempati hari ini memiliki perjalanan sejarah yang panjang.
Pengetahuan sejarah juga dapat menjadi bekal masyarakat untuk memahami arti kepemimpinan, tanggung jawab, integritas, dan keberpihakan kepada rakyat.
Media Mata Dunia.co.id akan melanjutkan penelusuran ini menuju masa pemerintahan Pangeran Danuningrat, hubungan Blambangan dengan Kerajaan Mengwi, hingga munculnya tokoh Wong Agung Wilis dan perlawanan terhadap VOC.
MENGENAL MASA LALU, MEMAHAMI PERUBAHAN ZAMAN, DAN BELAJAR MENILAI KEPEMIMPINAN UNTUK MASA DEPAN BANYUWANGI.
Bersambung ke Edisi 2: Pangeran Danuningrat, Wong Agung Wilis, dan Pergolakan Kekuasaan Kerajaan Blambangan.
redaksi.












