DARI MASA KETENANGAN MENUJU PERGOLAKAN: PANGERAN DANUNINGRAT, WONG AGUNG WILIS SERTABRETAKNYA KEKUASAAN KERAJAAN BLAMBANGAN

  • Bagikan

BANYUWANGI – MEDIA MATADUNIA.CO.ID

Perjalanan sejarah Kerajaan Blambangan memasuki babak baru setelah wafatnya Pangeran Adipati Danureja pada 1736. Takhta kerajaan kemudian diteruskan oleh putranya, Mas Naweng, yang dikenal dengan gelar Pangeran Danuningrat, Pangeran Jingga, atau Mas Sepuh dalam sejumlah sumber sejarah.

Namun, Danuningrat tidak langsung menjalankan pemerintahan secara penuh.

Karena masih berusia muda ketika naik takhta, pemerintahan untuk sementara dibantu oleh seorang pejabat dari Bali bernama Ranggasatata. Berdasarkan penelitian sejarah, Danuningrat baru mulai menjalankan kekuasaannya secara mandiri sekitar 1745.

MASA PEMERINTAHAN DANUNINGRAT: BLAMBANGAN PERNAH MENGALAMI KETENANGAN

Di bawah pemerintahan Danuningrat, Kerajaan Blambangan disebut mengalami masa relatif tenang.

Penelitian I Made Sujana yang dikutip dalam kajian Nur Maria menyebut periode tersebut sebagai masa kertayuga, yakni masa ketenteraman dan minim konflik fisik.

Wilayah kekuasaan Blambangan juga masih cukup luas. Sejumlah kawasan yang disebut dalam penelitian sejarah meliputi Puger, Bayu, Songgon, Rogojampi, Genteng, Gambiran, Grajagan, Banyuwangi, hingga Panarukan.

Catatan mengenai jumlah penduduk sekitar 20.000 jiwa pada 1750 juga muncul dalam literatur yang dikutip penelitian tersebut. Angka ini perlu dipahami sebagai perkiraan historis, bukan hasil sensus modern.

Gambaran tersebut menunjukkan bahwa Blambangan pada masa Danuningrat bukanlah kerajaan kecil tanpa pengaruh. Wilayahnya memiliki posisi strategis dalam hubungan politik Jawa dan Bali.

HUBUNGAN DENGAN BALI DAN PENGARUH KEKUASAAN LUAR

Salah satu persoalan penting pada masa Danuningrat adalah hubungan politik Blambangan dengan kekuatan Bali, khususnya Kerajaan Mengwi.

Hubungan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kepentingan keluarga kerajaan, tetapi juga menyangkut pengaruh politik dan pengendalian pemerintahan.

Di sisi lain, berdasarkan Perjanjian 1743, wilayah Jawa bagian timur termasuk Blambangan telah diserahkan oleh Pakubuwono II kepada VOC.

Namun, pengakuan VOC atas wilayah tersebut belum berarti mereka langsung menguasai pemerintahan Blambangan secara efektif.

BACA JUGA :  Puncak Arus Balik di Pelabuhan ASDP Ketapang Diprediksi Tgl 26-29 Maret 2026, Banyuwangi Gelar Rakor Bersama Kapolri

Situasi inilah yang membuat Blambangan berada dalam persilangan kepentingan antara kekuasaan Jawa, Bali, dan VOC.

WONG AGUNG WILIS: TOKOH YANG KEMUDIAN MENJADI SIMBOL PERLAWANAN

Nama Wong Agung Wilis menjadi salah satu bagian paling penting dalam sejarah Blambangan.

Dalam naskah Babad Wilis, Babad Tawang Alun, dan sejumlah penelitian sejarah, Wong Agung Wilis dikaitkan dengan nama Mas Sirna.

Ia memiliki hubungan keluarga dengan lingkungan penguasa Blambangan dan pernah menduduki jabatan penting dalam pemerintahan Danuningrat.

Namun, hubungan antara Danuningrat dan Wong Agung Wilis kemudian memburuk.

Penelitian Nur Maria dalam jurnal Patanjala tahun 2017 menjelaskan bahwa konflik internal tersebut berkaitan dengan perselisihan politik dan fitnah yang dalam tradisi babad dikaitkan dengan tokoh Tepasana.

Wong Agung Wilis kemudian kehilangan kedudukannya sebagai patih dan keluar dari lingkungan keraton.

Peristiwa tersebut menjadi salah satu awal pergolakan politik yang kemudian mengubah perjalanan Kerajaan Blambangan.

1763: AWAL BERAKHIRNYA PEMERINTAHAN DANUNINGRAT

Tahun 1763 menjadi titik penting dalam perjalanan kekuasaan Danuningrat.

Sejumlah penelitian menyebut konflik internal kerajaan dan perubahan hubungan politik dengan Bali menjadi bagian dari proses berakhirnya pemerintahannya.

Setelah itu, Blambangan berada dalam situasi politik yang semakin tidak stabil.

Pada periode 1763–1767, pengaruh Bali terhadap Blambangan masih kuat. Namun, kepentingan VOC untuk menguasai wilayah tersebut juga semakin nyata.

Dalam sejumlah catatan sejarah, Danuningrat kemudian mengalami nasib tragis setelah dipanggil ke Bali dan meninggal pada 1767.

Detail mengenai proses kematiannya masih perlu dibandingkan dengan sumber-sumber sejarah lain agar tidak terjadi penyederhanaan terhadap peristiwa tersebut.

1767–1768: PERLAWANAN WONG AGUNG WILIS TERHADAP VOC

Setelah perubahan kekuasaan dan masuknya VOC, Wong Agung Wilis muncul sebagai pemimpin perlawanan rakyat Blambangan.

BACA JUGA :  Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani Geber Beasiswa "Banyuwangi Progresif", Prioritas Dokter Spesialis dan Jurusan Kesehatan

Penelitian Nur Maria dalam jurnal Patanjala berjudul Gerakan Sosial Politik di Blambangan Tahun 1767–1768 menjelaskan bahwa gerakan tersebut memiliki latar belakang yang kompleks.

Persoalannya bukan hanya perebutan kekuasaan, tetapi juga berkaitan dengan kepentingan politik, sosial, ekonomi, agama, dan hubungan antarkelompok masyarakat.

VOC berupaya memperkuat kekuasaannya di Blambangan melalui pengendalian perdagangan dan kepentingan ekonomi.

Perlawanan Wong Agung Wilis pada akhirnya menghadapi kekuatan militer VOC yang lebih besar.

Dalam catatan sejarah, Pangeran Puger, putra Wong Agung Wilis, gugur ketika menyerang benteng VOC di Banyualit pada 1768. Wong Agung Wilis kemudian ditangkap dan dibuang ke Pulau Banda.

Namun, perlawanan masyarakat Blambangan tidak serta-merta berhenti setelah penangkapan pemimpinnya.

PELAJARAN SEJARAH UNTUK MASYARAKAT BANYUWANGI

Kisah Danuningrat dan Wong Agung Wilis menyimpan pelajaran penting tentang perjalanan sebuah pemerintahan.

Sebuah kerajaan dapat mengalami masa ketenangan, tetapi konflik internal, kepentingan kekuasaan, dan pengaruh pihak luar dapat mengubah keadaan secara drastis.

Sejarah ini juga mengingatkan bahwa kepemimpinan bukan sekadar persoalan siapa yang menduduki takhta, melainkan bagaimana kekuasaan dijalankan dan bagaimana kepentingan masyarakat dilindungi.

Bagi masyarakat Banyuwangi hari ini, memahami sejarah tersebut penting agar tidak mudah melupakan perjalanan panjang daerahnya.

Dalam menentukan pemimpin masa depan, masyarakat perlu memiliki pengetahuan, keberanian berpikir kritis, serta kemampuan menilai rekam jejak dan tanggung jawab setiap pemimpin berdasarkan fakta.

SEJARAH BUKAN UNTUK MENGHIDUPKAN PERPECAHAN MASA LALU, MELAINKAN UNTUK MENJADI PELAJARAN AGAR KESALAHAN YANG SAMA TIDAK TERULANG.

Media Mata Dunia.co.id akan terus menelusuri sejarah Bumi Blambangan, dari pergolakan kerajaan hingga perjuangan rakyat dalam Perang Bayu.

BERSAMBUNG KE EDISI 3: PERANG BAYU 1771–1773, PERLAWANAN RAKYAT BLAMBANGAN, DAN TRAGEDI YANG MENJADI PENANDA SEJARAH BANYUWANGI.

redaksi

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *