PERANG PUPUTAN BAYU 1771–1773: KETIKA RAKYAT BLAMBANGAN BANGKIT MELAWAN VOC, JEJAK PERJUANGAN YANG MENJADI BAGIAN SEJARAH LAHIRNYA BANYUWANGI

  • Bagikan

BANYUWANGI – MEDIA MATADUNIA.CO.ID

Jauh sebelum Banyuwangi berkembang menjadi kabupaten seperti sekarang, tanah Blambangan pernah menjadi saksi perlawanan besar rakyat terhadap kekuatan kolonial Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).

Peristiwa itu dikenal sebagai Perang Bayu atau Puputan Bayu. Perang tersebut menjadi salah satu episode paling penting dalam perjalanan sejarah Bumi Blambangan, terutama karena memperlihatkan perjuangan masyarakat mempertahankan wilayah dan kehidupan mereka dari ekspansi kekuasaan asing.

AWAL PERGOLAKAN: BLAMBANGAN MENJADI INCARAN VOC

Kepentingan VOC terhadap Blambangan tidak muncul begitu saja.

Pada 1743, wilayah Jawa bagian timur, termasuk Blambangan, telah diserahkan kepada VOC melalui kesepakatan politik dengan Pakubuwono II.

Namun, VOC tidak langsung menguasai wilayah tersebut secara efektif.

Situasi berubah ketika kepentingan perdagangan Inggris mulai berkembang di kawasan Banyuwangi pada 1766. Kehadiran Inggris membuat VOC semakin terdorong memperkuat pengaruhnya di wilayah timur Jawa.

Pada 1767, VOC mulai melakukan ekspansi militer untuk menguasai Blambangan.

Sejak saat itu, konflik antara kekuatan kolonial dan masyarakat Blambangan semakin meningkat.

WONG AGUNG WILIS DAN AWAL PERLAWANAN

Sebelum Perang Bayu mencapai puncaknya, rakyat Blambangan telah melakukan perlawanan terhadap VOC.

Salah satu tokoh penting dalam perjuangan tersebut adalah Wong Agung Wilis.

Pada 1768, pasukan yang berkaitan dengan perjuangan Wong Agung Wilis melakukan serangan terhadap benteng VOC di Banyualit.

Dalam peristiwa tersebut, Pangeran Puger, putra Wong Agung Wilis, gugur. Wong Agung Wilis kemudian ditangkap dan dibuang ke Pulau Banda menurut catatan sejarah yang dikutip dalam sejarah resmi Banyuwangi.

Penangkapan Wong Agung Wilis ternyata tidak mengakhiri perlawanan rakyat.

Perjuangan kemudian berlanjut dengan munculnya pemimpin-pemimpin baru.

REMPEG JAGAPATI DAN PERLAWANAN DI BAYU

Nama Rempeg Jagapati, yang juga dikenal sebagai Pangeran Jagapati atau Mas Rempeg dalam sejumlah sumber, menjadi salah satu tokoh utama dalam Perang Bayu.

BACA JUGA :  Rotasi 42 Kepala Sekolah SMP, Bupati Ipuk Fiestiandani Minta Sekolah Aktif Cegah Anak Putus Sekolah

Ia memimpin perlawanan rakyat Blambangan menghadapi kekuatan VOC.

Sejumlah sumber sejarah lokal dan pemerintah daerah juga menyebut Patih Jaga Lara serta Sayu Wiwit sebagai tokoh yang berkaitan dengan perjuangan tersebut.

Pusat perlawanan berada di kawasan Bayu, yang sekarang termasuk wilayah Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi.

Kawasan ini memiliki posisi penting dalam sejarah peperangan karena menjadi tempat pertahanan rakyat Blambangan menghadapi serangan pasukan VOC.

18 DESEMBER 1771: PERTEMPURAN BESAR YANG DIKENANG SEBAGAI PUJANGGA SEJARAH BANYUWANGI

Tanggal 18 Desember 1771 menjadi salah satu tanggal paling penting dalam sejarah Banyuwangi.

Pada tanggal tersebut terjadi pertempuran besar di kawasan Bayu antara pasukan Blambangan yang dipimpin Rempeg Jagapati dan kekuatan VOC.

Dalam sejumlah kajian, pasukan Blambangan digambarkan memanfaatkan kondisi medan dan strategi pertahanan untuk menghadapi persenjataan VOC yang lebih modern.

Perlawanan rakyat tidak dapat dipahami hanya sebagai bentrokan militer. Di dalamnya terdapat perjuangan mempertahankan tanah, kehidupan masyarakat, serta kebebasan menentukan nasib sendiri.

Pertempuran tersebut menjadi salah satu episode penting yang kemudian dikenang sebagai Perang Puputan Bayu.

PERANG TIDAK BERAKHIR DALAM SATU HARI

Penting dipahami bahwa Perang Bayu bukan hanya satu pertempuran yang berlangsung pada 18 Desember 1771.

Sejumlah penelitian menjelaskan bahwa peperangan berlangsung dalam beberapa gelombang, termasuk pertempuran lanjutan pada 1772. Rentang konflik yang lebih luas bahkan berkaitan dengan ekspansi VOC sejak 1767 hingga 1773.

Karena itu, sejarah Perang Bayu perlu dibaca sebagai rangkaian perjuangan yang panjang, bukan sekadar satu tanggal pertempuran.

Perlawanan rakyat Blambangan akhirnya menghadapi tekanan militer dan politik yang sangat besar. VOC kemudian memperkuat penguasaannya atas wilayah Blambangan.

Meski demikian, ingatan tentang perlawanan tersebut tetap hidup dalam sejarah dan tradisi masyarakat Banyuwangi.

BACA JUGA :  Tumpeng Sewu Kemiren, Bupati Ipuk: Simbol Kekuatan Gotong Royong dan Budaya Banyuwangi

MENGAPA 18 DESEMBER MENJADI HARI JADI BANYUWANGI?

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mencatat bahwa tanggal 18 Desember 1771 dipilih sebagai momentum Hari Jadi Banyuwangi karena memiliki hubungan erat dengan peristiwa puncak Perang Puputan Bayu.

Penetapan tanggal tersebut dilakukan melalui keputusan DPRD Banyuwangi pada 9 Mei 1995.

Dengan demikian, tanggal 18 Desember bukan sekadar penanda kalender perayaan daerah. Tanggal tersebut memiliki kaitan historis dengan perjuangan rakyat Blambangan.

Namun, perlu dibedakan antara momentum historis yang menjadi dasar Hari Jadi Banyuwangi dengan pembentukan administratif Kabupaten Banyuwangi pada masa berikutnya.

Keduanya merupakan bagian dari perjalanan sejarah yang berbeda dan perlu ditelusuri secara tersendiri.

PELAJARAN SEJARAH UNTUK PEMIMPIN DAN GENERASI BANYUWANGI

Perang Bayu menyimpan pelajaran besar bagi masyarakat Banyuwangi.

Sejarah memperlihatkan bahwa sebuah wilayah tidak hanya dibentuk oleh pergantian penguasa, tetapi juga oleh perjuangan masyarakat yang mempertahankan tanah kelahirannya.

Perjuangan para pendahulu seharusnya menjadi pengingat bagi setiap generasi bahwa kepemimpinan memiliki tanggung jawab besar terhadap masyarakat.

Pemimpin yang baik bukan hanya dinilai dari jabatan, popularitas, atau janji pembangunan. Rekam jejak, integritas, keberanian mengambil keputusan yang berpihak kepada kepentingan umum, serta tanggung jawab terhadap rakyat merupakan hal yang perlu diperhatikan.

Masyarakat Banyuwangi juga perlu mengenali sejarah daerahnya agar tidak mudah melupakan pengorbanan generasi terdahulu.

JANGAN SAMPAI GENERASI BANYUWANGI HANYA MENGENAL NAMA HARI JADINYA, TETAPI TIDAK MENGETAHUI SEJARAH PERJUANGAN YANG MELATAR­BELAKANGINYA.

Media Mata Dunia.co.id akan terus menelusuri perjalanan sejarah Bumi Blambangan, termasuk tokoh-tokoh perjuangan, perubahan kekuasaan, dan proses lahirnya pemerintahan Kabupaten Banyuwangi.

BERSAMBUNG KE EDISI 4: SETELAH PERANG BAYU, BAGAIMANA VOC MENGUASAI BLAMBANGAN DAN BAGAIMANA BANYUWANGI BERTRANSFORMASI MENJADI PUSAT PEMERINTAHAN?

redaksi.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *